Sebagai bagian dari program pengembangan perpustakaan Taman Bacaan Pelangi dengan sekolah mitra di Kabupaten Manggarai Barat, selama 21-23 November 2016 lalu perwakilan dari dua belas sekolah mitra mengikuti pelatihan pengelolaan perpustakaan di Labuan Bajo. Selain membahas perihal pengelolaan perpustakaan, pelatihan ini menjadi ajang bagi semua pihak yang terlibat untuk menyatukan misi dan merekatkan hubungan kemitraan ini.
Dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Manggarai Barat, Bp. Magol Marten, pelatihan ini menjadi pelatihan perdana kami dalam rangkaian program yang akan kami jalani bersama-sama selama kurang lebih satu tahun ke depan. Pelatihan ini diikuti oleh kepala sekolah, pustakawan, serta salah satu guru di sekolah mitra. Ini adalah kedua kalinya 12 sekolah mitra Taman Bacaan Pelangi ini berkumpul, setelah penandatanganan nota kesepahaman 20 September lalu.
Dengan dilandasi tujuan yang sama, yakni mengembangkan perpustakaan ramah anak dalam rangka menumbuhkan kebiasaan membaca bagi anak-anak, saya menyaksikan peserta pelatihan mengikuti rangkaian acara dengan antusiasme yang luar biasa. Hal ini semakin kentara sebab keaktifan dan partisipasi peserta lah yang menjadi titik berat pada pelatihan kali ini.
Diluar dugaan, antusiasme peserta pelatihan melebihi apa yang terbayang di benak saya. Misi yang sama, saya pikir, menjadi faktor utama mengapa mereka begitu antusias meskipun pelatihan kali ini membahas banyak sekali materi baru bagi mereka, yang cukup menguras tenaga dan pikiran.
Menjadi fasilitator di hari pertama, menurut saya pribadi, adalah tugas yang sangat berat. Saya seperti memegang kunci pintu menuju keseluruhan pelatihan hari itu, bahkan seluruh rangkaian pelatihan. Beban ini membuat saya tegang sekali di awal, namun seiring berjalannya hari, yang saya khawatirkan tak terjadi. Kami bersenang-senang selama hari pertama pelatihan. Yang menarik perhatian saya pada hari pertama adalah ketika peserta berkompetisi melakukan simulasi penataan perabot di perpustakaan.
Setiap kelompok berlomba-lomba menampilkan yang terbaik, mereka mengikuti instruksi yang kami berikan dengan penuh semangat, meskipun sesi tersebut adalah sesi terakhir pada hari itu. Melihat semangat mereka yang masih membara, rasa lelah saya hilang seketika. Kala itu saya berpikir bahwa, ternyata memang benar, semangat itu bisa menjadi wabah. Wabah yang positif tentunya.
Kompetisi menampilkan denah terbaik mereka berlanjut saat gallery walk, di mana peserta dari kelompok lain diperkenankan melihat dan memberikan tanggapan terhadap penataan perabot. Dengan suara khas Manggarai Barat yang terdengar sungguh nyaring di telinga, para kepala sekolah, guru, dan pustakawan memamerkan karya mereka dan memberi penjelasan hasil diskusi sebelumnya.
Pada hari kedua, semangat para peserta tak kalah berapi-api dari hari pertama. Saya melihat kami, fasilitator, dan peserta semakin rekat. Meskipun materi pelatihan di hari kedua merupakan hal yang cukup baru bagi peserta, sesi-sesi di hari kedua ini berjalan tanpa kendala berarti. Mungkin semangat yang mewabah di hari pertama tadi masih luas dampaknya. Ditambah lagi dengan keakraban yang terjalin setelah seharian kemarin bersama-sama, kendala di materi tak jadi persoalan bagi kami dan peserta, pikir saya.
Benar memang. Kami ini ibarat pohon, semakin lama semakin banyak daun, semakin rindang dan kuat menahan tiupan angin. Terasa sekali keakraban di hari ketiga ini. Di hari terakhir pelatihan ini kami bersama-sama melihat kembali apakah ekspektasi yang peserta kemukakan di permulaan pelatihan sudah terpenuhi. Beruntungnya kami, semua hal-hal yang dituliskan dapat terjawab di sepanjang tiga hari pelatihan. Dengan hal-hal baru yang didapatkan dari pelatihan ini, semoga tujuan kita bersama dapat tercapai. Perubahan ke arah yang lebih baik memang tidak mudah dilakukan, namun hal tersebut bukan mustahil dilakukan. Melihat semangat dan antusiasme peserta selama pelatihan, saya yakin mereka dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Sampai jumpa di pelatihan selanjutnya!
Mahrita
salut untuk para penggiat literasi Taman Bacaan Pelangi, memang benar kalau pengalaman adalah yang guru terbaik, kami yg lulusan perpustakaan justru masih berkutat dg teori2 dan harus belajar lebih banyak dari para praktisi literasi sehingga kami jg bs berkontribusi seperti kegiatan ini