Akhirnya tiba juga giliran saya untuk mendirikan peprustakaan ramah anak di Atambua, ibukota Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Langit yang berwarna biru cerah menambah keceriaan hari-hari pertama saya di kota kecil ini. Ternyata tidak begitu panas di sini, akan tetapi walaupun begitu, saya masih usahakan untuk memakai topi ketika keluar. Heheh…

Langitnya cantik ya?! 🙂

Saat referendum tahun 1999, Propinsi Timor-Timur akhirnya berpisah dari Indonesia. Atambua merupakan daerah terdekat yang berbatasan langsung dengan negara yang berubah nama menjadi Timor Leste itu. Akibatnya adalah banyak juga masyarakat yang memilih menjadi orang Indonesia akhirnya harus menempati tempat pengungsian. Kini, pengungsian itu sudah berubah menjadi kampung, bahkan kecamatan baru.

Di Kabupaten Belu ini, Taman Bacaan Pelangi akan mendirikan tiga perpustakaan baru yang akan bekerja sama dengan tiga sekolah dasar di sekitar Atambua ini. Ketiga sekolah ini akan menjadi tiga sekolah pertama di Kabupaten Belu yang memiliki perpustakaan ramah anak. Yeayy!!

Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menentukan ketiga sekolah terpilih adalah seleksi sekolah. Bersama dengan Pak Vinsen, dari Dinas Pendidikan Kabupaten Belu, kami pun mendatangi sekolah-sekolah yang direkomendasikan oleh kepala dinas pendidikan.

Kalau buku sebanyak ini, anak-anak akan membaca di mana?

 

Kalau kebanyakan lemari anak-anak akan membaca di mana?

Kenyataan di lapangan yang membuat saya terkejut adalah jumlah murid yang membludak. Saking banyaknya, tidak sedikit sekolah yang kekurangan ruangan kelas atau menerapkan jam sekolah di pagi dan siang hari. Beberapa sekolah yang sudah kami datangi, ada sekolah yang jumlah muridnya sampai 700 anak. Terdiri dari 25 rombel dan 42 tenaga pendidik. Ramai kannn?? Gak kebayang kalau mereka harus berkumpul di waktu yang sama.

Senyuummm!! 🙂

Setelah mengunjungi hampir sepuluh sekolah, rata-rata murid per sekolah itu bisa sampai 300an anak. Ramai sekali ya sekolah di sini! Jadi, walaupun ada beberapa sekolah yang bertetangga dekat, tetap saja jumlah muridnya membludak.

“Datang darimana anak-anak ini, Pak?” Tanya saya kepada salah satu kepala sekolah, yang kemudian saya sadari bisa saya jawab sendiri. 😀

Ahh… sudah tidak sabar ingin segera melihat adik-adik di Pulau Timor ini segera menikmati perpustakaan nyaman mereka. Nanti kami kabari lagi berita baiknya ya!
Terima kasih.

 

Ditulis di Bandara El Tari, Kupang. 28.7.2018
Monik