Sebagai bagian dari program pengembangan perpustakaan oleh Taman Bacaan Pelangi, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan ke pihak sekolah untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menumbuhkan kebiasaan membaca pada siswa.

Beberapa kali saya menerima komentar para guru dan kepala sekolah bahwa para siswa kelas 1 dan 2, yang sebagian besar belum lancar membaca, tidak membaca buku saat di perpustakaan. Mereka hanya membolak balik halaman buku untuk melihat gambar.

Lea di Perpustakaan bersama Ibu Ovi, Guru di SDK Wae Bangka

Kemudian, saya mencoba menjelaskan bahwa melihat gambar tanpa membaca pun bukan menjadi masalah. Malah, melihat gambar bisa menumbuhkan kecintaan mereka terhadap buku.

Seperti yang saya temui saat melakukan dukungan dan pemantauan di SDK St Yosefa Labuan Bajo pada pertengahan Juli 2017, seorang siswa kelas 1 sibuk memilih buku di perpustakaan. Ternyata pilihannya jatuh pada buku berjudul Sayang Binatang.

Desya, Siswa Kelas 1, Membaca Judul Buku yang Ia Pilih

Dengan penuh rasa penasaran, ia mendekati saya dan menyodorkan buku yang ia pilih. “Kakak, bisa tolong bacakan buku ini kah?” pintanya dengan wajah penuh harap. Saya langsung mengajaknya duduk bersandar ke salah satu dinding perpustakaan dan mulai membacakan buku yang ia pilih.

Selama saya membaca buku, ia menyimak dan beberapa kali mengomentari cerita sambil menunjuk gambar. Dalam hati, saya langsung bergumam, “Ah, inilah yang dimaksud dengan mencintai buku walaupun belum lancar membaca yaa.”

Saya ingat betul, satu hal yang Taman Bacaan Pelangi bagikan saat pelatihan untuk para guru dan kepala sekolah adalah pentingnya menumbuhkan kebiasaan membaca melalui perpustakaan. Kebiasaan membaca yang dimaksud di sini adalah “anak mau membaca, sering membaca, menikmati membaca baik di sekolah maupun di rumah.”

Selesai menyimak buku yang saya baca, ia dengan penuh harap sekali lagi bertanya, “Kakak, saya boleh pinjam buku ini kah?”

Senyum saya merekah saat itu juga. Inilah yang ingin Taman Bacaan Pelangi kembangkan bersama sekolah. Anak menikmati buku, bahkan sejak mereka belum lancar membaca.

Siswa SDN Rangga Watu di Perpustakaan

Menjawab pertanyaan anak tadi, ternyata SDK St Yosefa Labuan Bajo memiliki kebijakan untuk mengizinkan siswa kelas 1 meminjam buku dengan didampingi orang tua. Orang tua lah yang harus datang ke perpustakaan untuk meminjam buku dan diberi tahu mengenai aturan dan sistem yang berlaku di perpustakaan.

Ini sekaligus menegaskan bahwa sekolah tidak menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan seorang anak. Kecintaan anak terhadap buku harus didukung oleh orang dewasa di sekitarnya, termasuk orang tua.

Meskipun Belum Sekolah, Dua Anak ini Rajin ke Perpustakaan

Memang tidak semua anak memiliki akses ke buku yang memiliki gambar menarik yang bisa ia nikmati. Tidak semua anak juga memiliki orang tua yang dapat membacakan buku yang mereka bawa ke rumah.

Namun, tidak ada salahnya kita berupaya sekuat tenaga untuk memberikan lebih banyak pilihan buku untuk anak-anak ini. Tidak ada salahnya juga kita sebagai orang dewasa meluangkan waktu dan tenaga untuk memenuhi rasa ingin tahu mereka.

Biarkan mereka terus belajar, masa emas ini tidak datang dua kali ­čÖé

 

Mahrita