Adalah sebuah cerita menarik dari salah satu sekolah terpilih, yang bernama Sekolah Dasar Inpres (SDI) Macan Tanggar. SDI Macan Tanggar masih termasuk dalam Kecamatan Komodo, namun perjalanan dari pusat Kota Labuan Bajo menuju sekolah ini membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam menggunakan motor dengan akses jalan yang masih kurang baik, butuh kehati-hatian saat berkendara, karena ban motor bisa terpeleset di atas rumput yang licin, ban bocor karena batu yang tajam atau bisa jadi terjebak dalam tanah liat berlumpur bekas hujan.

Jalanan berbatu menuju SDI Macan Tanggar, sesaat setelah salah satu tim TBPelangi jatuh dari motor karena ban motor terselip diantara bebatuan.

Pada mulanya SDI Macan Tanggar tidak termasuk dalam 12 sekolah yang terpilih pada program pengembangan perpustakaan tahun 2016-2017, bahkan penandatanganan MoU sudah dilaksanakan pada 20 September 2016 di Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dinas PPO) Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Jeda satu bulan pasca-penandatanganan MoU, saat kunjungan TB Pelangi ke salah satu sekolah terpilih, kami mengetahui bahwa sekolah tersebut telah menerima bantuan serupa yaitu pengembangan perpustakaan dari pihak lain tanpa konfirmasi kepada pihak TB Pelangi. Berdasarkan hal tersebut dengan segala pertimbangan, dan atas persetujuan Dinas PPO Kab. Manggara Barat, TB Pelangi memutuskan perjanjian kerjasama dan kembali melakukan survei untuk mengganti sekolah tersebut.

Jalanan Menuju SDI Macan Tanggar ketika turun hujan

Survei sekolah kali ini merupakan hal yang berat, selain dari beberapa kriteria sekolah menjadi persyaratan utama yang harus dipenuhi, juga karena TB Pelangi harus berkejaran dengan waktu, sebab penyelenggaraan district workshop hanya tinggal 10 hari lagi.

Suatu malam, di tengah rapat internal tiba-tiba salah satu Project Coordinators berseru bahwa dia menerima SMS 10 hari lalu yang berisi permohonan untuk berkunjung dan membantu mendirikan taman bacaan di sekolahnya. Sekolah tersebut adalah SDI Macan Tanggar. Saat itu waktu sudah menunjuk pukul 20.30 WITA, kami langsung menghubungi nomor handphone tersebut untuk memastikan alamat sekolahnya dan menyampaikan bahwa kami akan berkunjung esok hari.

Dari hasil survei terdapat 6 sekolah pengganti yang potensial untuk bekerjasama. Kelebihan dan kekurangan masing-masing sekolah sudah ditabulasikan, dan berdasarkan hasil diskusi, kami sepakat memilih SDI Macan Tanggar untuk masuk menjadi salah satu dari 12 sekolah. Sekalipun yang menjadi sekolah terakhir yang bergabung, SDI Macan Tanggar tetap harus mengikuti tahapan selanjutnya yaitu orientasi pengenalan program perpustakaan dengan sekolah, komite sekolah dan masyarakat sekitar. Antusias kepala sekolah, guru-guru, komite sekolah dan masyarakat sekitar terhadap program ini sangat besar, karena ternyata bantuan ini adalah bantuan pertama yang mereka terima. Kepala sekolah, Bpk. Maksimus Mujur dan salah seorang guru, Bpk. Saifurrahman bercerita pada kami bahwa mereka belum pernah sekali pun menerima bantuan untuk pengembangan sekolah.

Gedung kosong yang akan segera menjadi ruangan perpustakaan di SDI Macan Tanggar

Pak Saifurrahman berkisah ketika beliau berkunjung di sebuah kampung bernama Melo, yang di sana sudah ada bantuan pengembangan perpustakaan dari Taman Bacaan Pelangi, kemudian Pak Saifurrahman bertanya, “bagaimana sekolahmu dapat mendapatkan bantuan tersebut?”.

Temannya menjawab, “Taman Bacaan Pelangi sendiri yang datang survey kemudian memberikan bantuan”.

Pak Saifurrahman bertanya lagi, “apa syarat untuk mendapatkan bantuan?”.

Temannya kemudian berkata, “Sudahlah, jangan mimpi kamu! Sekolahmu itu di atas gunung, jalan ke sana tidak bagus, mereka tidak mungkin naik jauh-jauh kesana. Mereka hanya bantu sekolah yang di pinggir jalan.

Sedikit kecewa dengan jawaban yang didapatkan, namun tidak memutuskan harapan Pak Saifurrahman untuk mencari informasi dan mengharapkan bantuan tersebut. Setelah mencari tahu dan bertanya pada beberapa guru di sekolah lainnya, akhirnya Pak Saifurrahman mendapatkan informasi bahwa TB Pelangi sedang ada program pengembangan untuk 12 sekolah tahun ini. Sekalipun sudah disampaikan bahwa 12 sekolah telah terpilih dan melakukan penandatanganan MoU, Pak Saifurrahman tetap meminta kontak nomor handphone salah satu dari kami, kemudian mengirimkan SMS permohonan untuk mengunjungi sekolahnya.

Keindahan alam dan rumah penduduk

Dari cerita tersebut, kita dapat berkaca dan belajar dari semangat, harapan besar, dan usaha yang dilakukan Pak Saifurrahman, bahkan dapat merubah skenario alam yang sudah berjalan. Pak Saifurrahman pernah berkata, “sekalipun sekolah kami di atas gunung, jalan menuju sekolah rusak dan berkelok-kelok, dan jauh dari kota, bukan berarti kami tak dapat berubah, bukan berarti kami menyerah pada keadaan, dan bukan berarti kami tak berhak mendapatkan bantuan. Yang terpenting adalah harapan yang besar dan usaha yang keras, karena kami sadar sekolah kami jauh dan banyak orang yang tidak tahu bahwa di atas sini ada sekolah, sekalipun tahu belum tentu mereka mau datang. Dan kami sangat bersyukur TBP mau berkunjung dan mengajak kerjasama program pengembangan perpustakaan ini”

Saya pribadi, ketika akan berkunjung ke SDI Macan Tanggar, hati saya selalu berbunga-bunga. Merindukan sosok-sosok “pahlawan” yang sesungguhnya, mereka rela berkendara, atau berjalan kaki sampai di ujung bukit demi pendidikan anak-anak, bahkan kepala sekolah sampai mengharuskan dirinya menginap di sekolah dari senin sampai sabtu, kemudian sabtu sore turun pulang ke rumah dan kembali ke sekolah senin pagi. Jadwal pulang pun dapat terwujud jika beruntung tak turun hujan, karena apabila hujan, maka pengendara mobil dan/atau motor hanya punya dua pilihan, yaitu tak bisa melanjutkan perjalanan ke sekolah, atau tak bisa turun pulang ke rumah.

Tim TB Pelangi bersama dua rekan dari Provisi Education mengunjungi SDI Macan Tanggar setelah Pelatihan Pengelolaan Perpustakaan

 

Bermain bersama dengan adik-adik SDI Macan Tanggar

Setiap kali berkunjung ke SD-SD kami sering bermain sambil belajar dengan anak-anak. Senyum ikhlas dan tawa lepas mereka adalah harapan. Pancaran binar mata mereka adalah harapan, langkah-langkah kecil mereka adalah harapan. Tak perlu kendaraan mewah ataupun sepatu bagus dan bermerk mahal. Jalanan berbatu, berlubang, tanah merah, ataupun arus sungai tak akan pernah mematahkan semangat mereka untuk mendapatkan ilmu. Alam adalah sahabat terbaik, tidak peduli betapa teriknya matahari atau lebatnnya hujan, mereka akan tetap berangkat sekolah. Sekolah menjadi satu-satunya harapan dan tujuan mereka untuk menjadi generasi penerus yang lebih baik. Buku bacaan menjadi sarana yang paling mewah dan yang paling dirindukan. Semoga bantuan untuk program pengembangan perpustakaan di tanah timur Indonesia terus berjalan, sehingga jendela dunia untuk tanah timur Indonesia semakin banyak dengan pemanfaatan yang meluas.

 

Labuan Bajo, Januari 2017

Dewi Analis